Mengapa Harga HP dan Laptop Mahal pada 2026? Ini Penyebabnya

Yoda Yuuki

No comments
Foto: Unsplash

Tintanarasi.com, Teknologi – Harga berbagai perangkat elektronik, mulai dari telepon seluler, tablet, laptop hingga komputer rakitan, mengalami tekanan kenaikan sepanjang 2026.

Penyebab utamanya bukan semata-mata karena produsen meluncurkan fitur baru. Industri teknologi sedang menghadapi kelangkaan DRAM dan NAND Flash, dua komponen utama yang digunakan sebagai RAM dan media penyimpanan pada hampir seluruh perangkat modern.

Kelangkaan terjadi ketika produsen memori mengalihkan sebagian kapasitas produksinya untuk memenuhi kebutuhan pusat data kecerdasan buatan. Server AI memerlukan memori berkapasitas jauh lebih besar dibandingkan ponsel atau laptop biasa dan menawarkan margin keuntungan lebih tinggi bagi produsen komponen.

IDC menilai perubahan tersebut bukan sekadar siklus kekurangan pasokan biasa, melainkan pergeseran strategis kapasitas produksi silikon dari perangkat konsumen menuju pusat data AI.

“Era memori dan penyimpanan murah serta melimpah telah berakhir, setidaknya untuk jangka menengah,” demikian analisis IDC seperti dikutip dari situs resmi lembaga riset tersebut.

Samsung, SK Hynix, dan Micron kini memprioritaskan produksi High Bandwidth Memory atau HBM serta DDR5 berkapasitas tinggi untuk server AI.

Setiap kapasitas pabrik yang dialihkan ke HBM berarti mengurangi pasokan LPDDR yang digunakan pada ponsel dan tablet, PC DRAM untuk laptop, serta NAND Flash yang menjadi bahan utama SSD dan penyimpanan internal perangkat.

Permintaan perusahaan seperti Microsoft, Google, Meta, Amazon, dan pengelola pusat data lainnya membuat pembeli memori untuk perangkat konsumen harus bersaing memperoleh pasokan yang tersisa.

Pembangunan pabrik baru juga tidak dapat dilakukan secara cepat. Fasilitas produksi semikonduktor membutuhkan investasi sangat besar, teknologi khusus, peralatan kompleks, dan waktu beberapa tahun sebelum dapat menghasilkan komponen dalam jumlah massal.

Akibatnya, peningkatan kapasitas produksi belum mampu mengimbangi pertumbuhan kebutuhan memori untuk server AI.

Besarnya kenaikan terlihat dari harga kontrak komponen yang dibayar produsen perangkat.

TrendForce mencatat harga kontrak DRAM konvensional diperkirakan naik 90 hingga 95 persen secara kuartalan pada kuartal pertama 2026. Khusus PC DRAM yang digunakan pada laptop dan komputer, kenaikannya bahkan diproyeksikan melampaui 100 persen.

Artinya, biaya komponen yang sebelumnya bernilai Rp1 juta secara ilustratif dapat meningkat menjadi lebih dari Rp2 juta dalam satu kuartal. Angka tersebut bukan harga jual RAM di toko, melainkan gambaran lonjakan harga pada tingkat kontrak pemasok.

Tekanan belum berhenti pada kuartal kedua. TrendForce memperkirakan DRAM konvensional kembali naik 58 hingga 63 persen, sementara harga NAND Flash meningkat 70 hingga 75 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.

NAND Flash digunakan pada SSD komputer, penyimpanan internal ponsel dan tablet, kartu memori, serta berbagai perangkat elektronik lainnya.

Krisis serupa menghantam industri ponsel pintar.

Harga rata-rata LPDDR4X yang banyak digunakan pada perangkat terjangkau dan kelas menengah diperkirakan naik 70 hingga 75 persen pada kuartal kedua 2026.

Sementara harga LPDDR5X yang digunakan pada ponsel flagship dan perangkat berperforma tinggi melonjak sekitar 78 hingga 83 persen dalam satu kuartal.

Secara ilustratif, apabila sebuah produsen sebelumnya membayar Rp500 ribu untuk satu paket komponen memori, kenaikan 83 persen dapat membuat biayanya mendekati Rp915 ribu.

Memori memiliki kontribusi sekitar 15 hingga 20 persen terhadap biaya komponen ponsel kelas menengah. Pada ponsel flagship, porsinya berada di kisaran 10 hingga 15 persen. Karena margin keuntungan ponsel murah lebih tipis, kenaikan harga memori justru dapat terasa lebih berat pada segmen tersebut.

Tablet turut menghadapi tekanan serupa karena memakai jenis RAM, NAND Flash, dan prosesor yang secara teknis berdekatan dengan komponen smartphone.

Produsen tidak selalu langsung menaikkan harga. Beberapa perusahaan memilih mempertahankan harga dengan mengurangi kapasitas RAM atau penyimpanan.

TrendForce memperkirakan ponsel kelas menengah kembali menjadikan RAM 8 GB sebagai konfigurasi utama. Perangkat entry-level cenderung bertahan pada 4 GB, sedangkan penggunaan RAM 16 GB pada ponsel kelas atas mulai berkurang dan digantikan konfigurasi 12 GB.

Karena itu, konsumen dapat menghadapi dua bentuk kenaikan biaya sekaligus. Harga perangkat bisa lebih mahal, atau harganya tetap tetapi kapasitas RAM dan penyimpanannya lebih kecil dibandingkan model yang semula direncanakan.

Produsen juga dapat mengurangi pilihan varian, menunda peluncuran, mempertahankan prosesor generasi lama, atau mengurangi promosi untuk menjaga keuntungan.

Dampak ekstrem krisis memori diakui langsung oleh Framework, produsen laptop dan komputer modular.

Perusahaan tersebut awalnya memperkirakan biaya memori LPCAMM2 naik dalam kisaran belasan persen. Namun, penawaran terbaru yang diterimanya jauh melampaui perkiraan.

“Harga yang kami terima lebih dari dua kali lipat dibanding persediaan sebelumnya,” tulis pendiri Framework Nirav Patel seperti dikutip dari situs resmi perusahaan.

Framework sebelumnya telah menaikkan harga pilihan DDR5 pada konfigurator laptop sebesar 50 persen untuk menyesuaikan kenaikan biaya dari pemasok.

Harga sejumlah sistem dan papan utama Framework juga pernah disesuaikan sekitar 6 hingga 16 persen. Perusahaan bahkan menghentikan sementara produksi kartu penyimpanan 250 GB setelah biaya NAND meningkat beberapa kali lipat dibandingkan harga awalnya.

Kasus tersebut menunjukkan produsen tidak hanya menghadapi kenaikan kecil. Pada komponen tertentu, biaya pembelian baru dapat mencapai dua kali hingga beberapa kali lipat dari persediaan lama.

IDC mencatat Lenovo, Dell, HP, Acer, dan Asus telah memberikan sinyal penyesuaian harga serta kontrak dengan kenaikan sekitar 15 hingga 20 persen akibat tekanan biaya memori.

Apabila kenaikan tersebut diterapkan sepenuhnya, laptop yang sebelumnya dibanderol Rp10 juta secara ilustratif dapat meningkat menjadi sekitar Rp11,5 juta hingga Rp12 juta.

IDC memperkirakan rata-rata harga jual komputer secara keseluruhan dapat meningkat 4 hingga 8 persen dalam skenario kekurangan pasokan sepanjang 2026.

Rata-rata harga smartphone diperkirakan naik sekitar 3 hingga 5 persen dalam skenario moderat dan 6 hingga 8 persen apabila kondisi pasokan memburuk. Kenaikan pada ponsel murah dapat lebih tinggi karena produsen memiliki ruang keuntungan yang lebih sempit.

Ponsel seharga Rp5 juta, misalnya, dapat menjadi Rp5,3 juta hingga Rp5,4 juta apabila mengalami kenaikan 6 hingga 8 persen. Namun, angka pada masing-masing produk dapat berbeda tergantung kontrak pemasok, stok lama, kapasitas memori, dan strategi produsennya.

Tekanan biaya tidak hanya berasal dari RAM dan penyimpanan.

Qualcomm dilaporkan telah memberi tahu konsumennya mengenai rencana kenaikan harga prosesor dalam persentase dua digit untuk pengiriman setelah 1 September 2026. Kenaikan itu dikaitkan dengan bertambahnya biaya produksi dan tekanan pada rantai pasok.

Prosesor Qualcomm digunakan pada berbagai smartphone Android, tablet, perangkat pintar, dan komputer Windows berbasis Snapdragon.

Apabila biaya prosesor, RAM, dan penyimpanan naik secara bersamaan, produsen semakin sulit mempertahankan harga perangkat tanpa mengurangi spesifikasi.

Konsumen Indonesia menghadapi tekanan tambahan dari nilai tukar rupiah karena komponen elektronik dan transaksi rantai pasok global umumnya dihitung dalam dolar Amerika Serikat.

Bank Indonesia mencatat rupiah berada di sekitar Rp16.670 per dolar AS pada akhir Desember 2025. Nilai JISDOR kemudian mencapai Rp18.088 per dolar AS pada Selasa (28/07/2026). Berdasarkan kedua angka tersebut, rupiah melemah sekitar 8,5 persen.

Sebagai ilustrasi, perangkat atau komponen senilai 500 dolar AS setara sekitar Rp8,33 juta ketika kurs berada di Rp16.670.

Pada kurs Rp18.088, nilai yang sama menjadi sekitar Rp9,04 juta. Selisihnya mencapai sekitar Rp709 ribu sebelum memperhitungkan pajak, ongkos pengiriman, distribusi, garansi, dan margin penjual.

Karena itu, harga global yang tidak berubah sekalipun masih dapat menjadi lebih mahal ketika masuk ke pasar Indonesia.

Kenaikan harga tidak selalu langsung terlihat pada semua toko.

Distributor dan penjual yang masih memiliki persediaan lama dapat menjual perangkat dengan biaya komponen sebelum kenaikan. Promosi perbankan, diskon lokapasar, subsidi produsen, dan program tukar tambah juga dapat menutupi kenaikan harga sementara.

Namun, ketika stok lama habis dan digantikan produksi baru, harga yang sudah menggunakan biaya RAM, SSD, prosesor, dan kurs terbaru akan mulai terlihat.

Kondisi itu menjelaskan mengapa dua toko dapat menjual perangkat yang sama dengan perbedaan harga cukup besar selama masa transisi.

Krisis memori juga membuat perangkat bekas dan produk generasi sebelumnya menjadi lebih menarik karena harganya tidak sepenuhnya mengikuti biaya produksi terbaru.

Konsumen Membayar Lebih Mahal atau Mendapat Spesifikasi Lebih Rendah

Krisis komponen 2026 pada akhirnya memberikan tiga pilihan kepada produsen, yakni menaikkan harga, menurunkan spesifikasi, atau menerima keuntungan yang lebih kecil.

Produsen besar dengan kontrak jangka panjang masih dapat menahan kenaikan untuk sementara. Namun, perusahaan kecil dan merek dengan margin tipis akan lebih cepat meneruskan biaya tersebut kepada konsumen.

Selama kebutuhan pusat data AI terus tumbuh dan tambahan kapasitas pabrik belum tersedia, harga RAM, SSD, ponsel, tablet, laptop, dan komputer diperkirakan tetap berada dalam tekanan.

Dengan demikian, mahalnya perangkat elektronik pada 2026 bukan hanya akibat fitur AI yang ditambahkan ke produk. Perangkat konsumen justru sedang berebut komponen dengan industri pusat data AI yang memiliki kemampuan membayar jauh lebih besar.

Share:

Related Post

Leave a Comment