Terungkap! 303 Miliar Barel Minyak Jadi Alasan Kuat Trump Tangkap Maduro

ochaapp

No comments
Foto: Unsplash

Tintanarasi.com, Internasional – Langkah Amerika Serikat (AS) mengambil alih kendali pemerintahan Venezuela pasca penangkapan Presiden Nicolas Maduro ternyata menyimpan agenda ekonomi strategis yang masif.

Presiden Donald Trump secara terbuka mengumumkan rencana besarnya untuk memobilisasi korporasi energi raksasa AS guna mengelola cadangan minyak Venezuela yang selama ini terbengkalai.

Dalam pernyataannya yang dikutip dari CNN pada Senin (05/01/2026), Trump menegaskan bahwa Washington akan memegang kendali pemerintahan sementara di Caracas.

Fokus utamanya adalah pemulihan sektor energi dengan mengundang investasi miliaran dolar dari perusahaan minyak Barat.

“Kita akan meminta perusahaan-perusahaan minyak Amerika Serikat yang sangat besar, bahkan ​​yang terbesar di dunia, untuk masuk. Mereka akan menginvestasikan miliaran dolar untuk memperbaiki infrastruktur minyak yang rusak parah,” tegas Trump.

Berdasarkan data Badan Informasi Energi AS (EIA), Venezuela duduk di atas harta karun energi berupa cadangan minyak mentah sebesar 303 miliar barel.

Angka fantastis ini setara dengan seperlima dari total cadangan minyak dunia.

Namun, potensi ini gagal dimaksimalkan akibat salah urus selama rezim Hugo Chavez hingga Nicolas Maduro, ditambah dengan sanksi internasional yang ketat.

Infrastruktur milik perusahaan negara PDVSA dilaporkan dalam kondisi kritis karena tidak pernah diperbarui selama setengah abad terakhir.

Estimasi biaya untuk merestorasi fasilitas tersebut agar kembali ke puncak produksi diprediksi mencapai angka fantastis, yakni USD 58 miliar.

Langkah Trump ini dinilai sangat strategis dari sisi teknis pengolahan minyak.

Terdapat perbedaan mendasar antara karakter minyak AS dan Venezuela yang justru menciptakan kecocokan pasar.

AS dikenal sebagai produsen “minyak manis dan ringan” (light sweet crude) yang ideal untuk bensin namun kurang optimal untuk produk turunan lain.

Sebaliknya, Venezuela memiliki cadangan “minyak berat dan asam” (heavy sour crude) yang sangat vital untuk produksi diesel, aspal, dan bahan bakar alat berat.

Phil Flynn, Analis Pasar Senior di Price Futures Group, menyoroti bahwa sebagian besar kilang minyak di AS justru didesain untuk memproses minyak berat.

Selama ini, pasokan minyak jenis tersebut terhambat sanksi, membuat produksi diesel global terganggu.

“Kilang-kilang AS jauh lebih efisien ketika menggunakan minyak Venezuela dibandingkan dengan minyak domestik AS sendiri,” ungkap Flynn.

Jika rencana ini berjalan mulus, masuknya kembali perusahaan AS untuk membangun ulang industri minyak Venezuela bisa mengubah peta energi global.

Selain menjamin pasokan yang lebih murah karena faktor kedekatan geografis, hal ini juga dapat menstabilkan harga minyak dunia.

“Bagi komoditas minyak, ini berpotensi menjadi peristiwa bersejarah. Jika perusahaan AS diizinkan membangun kembali industri di sana, ini bisa menjadi pengubah permainan (game changer) bagi pasar minyak global,” tambah Flynn.

Saat ini, produksi Venezuela hanya berkisar di angka 1 juta barel per hari atau 0,8 persen dari suplai global.

Dengan intervensi AS, angka ini diharapkan melonjak drastis, mengembalikan kejayaan Venezuela sebagai salah satu pemasok energi utama dunia.

Share:

Related Post

Leave a Comment