Tintanarasi.com, Internasional – Ketegangan militer antara Amerika Serikat dan Iran menemukan titik jeda. Presiden AS, Donald Trump, secara mengejutkan membatalkan rencana serangan ke fasilitas energi dan pembangkit listrik Teheran.
Keputusan penundaan selama lima hari ini diumumkan pada Senin (23/03/2026), sesaat sebelum tenggat waktu ultimatum 48 jam yang ia berikan sebelumnya resmi berakhir.
Langkah de-eskalasi ini diambil setelah Trump mengklaim adanya dialog positif antara Washington dan Teheran melalui unggahannya di platform Truth Social.
“Amerika Serikat dan Iran telah melakukan, selama dua hari terakhir, percakapan yang sangat baik dan produktif mengenai resolusi lengkap dan total permusuhan kita di Timur Tengah,” tulis Trump.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa penangguhan operasi militer ini tidak bersifat permanen, melainkan sangat bergantung pada progres diplomasi yang sedang berjalan saat ini.
Kabar mendadak ini langsung meredakan kepanikan di pasar global.
Harga minyak dunia yang sempat meroket tajam perlahan mulai turun, seiring dengan meredanya tekanan aksi jual di bursa Asia dan Eropa.
Penurunan harga komoditas energi ini sekaligus meringankan beban politik domestik Trump yang sempat dikritik oleh warga AS akibat lonjakan harga bahan bakar.
Sebelumnya, pemimpin AS itu telah memberikan batas waktu hingga Senin malam pukul 23.44 GMT (atau Selasa pagi waktu Teheran) bagi Iran untuk kembali membuka Selat Hormuz.
Jalur perairan krusial yang menyalurkan sekitar 20 persen pasokan minyak dunia tersebut diblokade oleh Iran sebagai bentuk pembalasan atas serangan mematikan AS dan Israel pada akhir bulan lalu.
Insiden tersebut diketahui telah menewaskan sejumlah tokoh penting, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Meskipun pihak AS mengklaim ada kemajuan diplomasi, posisi Iran pada dasarnya tetap bersiaga dan menantang.
Teheran sebelumnya telah menebar ancaman akan menghancurkan fasilitas vital di negara-negara kawasan Teluk, termasuk pabrik desalinasi air laut dan pusat energi, apabila Washington tetap menekan tombol serangan.
Hingga kini, rincian spesifik terkait perundingan tersebut belum diungkap ke publik secara detail.
Sebelum rentetan konflik ini meledak, kedua negara sebenarnya sempat difasilitasi oleh Oman untuk membahas kesepakatan nuklir, tepat beberapa hari sebelum serangan eskalasi di akhir Februari terjadi.







Leave a Comment