Netanyahu Muncul ke Publik, Tantang Pemimpin Baru Iran Saat Konflik Kian Membara

ochaapp

No comments
Foto: gov.il

Tintanarasi.com, Internasional – Situasi di kawasan Timur Tengah mencapai titik nadir seiring meningkatnya intensitas serangan yang melibatkan kekuatan besar kawasan pada Minggu (15/03/2026).

Krisis ini tidak hanya memicu gelombang evakuasi warga asing secara besar-besaran, tetapi juga melumpuhkan agenda olahraga internasional.

Formula One (F1) resmi membatalkan balapan di Bahrain dan Arab Saudi, sementara evakuasi udara yang melibatkan ratusan warga Korea Selatan harus dilakukan di bawah pengamanan ketat pesawat militer.

Di tengah hujan rudal, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu akhirnya muncul ke publik untuk membantah rumor kematiannya yang sempat disebarkan media Iran.

Dalam konferensi pers melalui tautan video pada Kamis (12/03/2026), Netanyahu memberikan pesan provokatif yang menargetkan pemimpin tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, yang menggantikan ayahnya setelah serangan pada akhir Februari lalu.

“Kami telah membunuh diktator sebelumnya dan diktator baru Mojtaba yang merupakan boneka IRGC bahkan tidak bisa menunjukkan wajahnya ke publik. Saya tidak akan memberikan polis asuransi jiwa kepada para pemimpin organisasi teroris mana pun,” tegas Netanyahu.

Menanggapi hal tersebut, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengeluarkan ancaman balasan yang tidak kalah sengit.

IRGC bersumpah untuk mengejar dan menghabisi nyawa Netanyahu.

Selain ancaman personal, militer Iran juga terus menggempur pangkalan-pangkalan militer Amerika Serikat di Kuwait dan Al-Kharj, Arab Saudi.

Pihak Teheran mengancam akan menghancurkan seluruh fasilitas energi perusahaan AS jika kilang minyak mereka di Pulau Kharg diserang.

Ketegangan ini juga memicu reaksi keras dari Washington.

Donald Trump mendesak kekuatan dunia seperti China, Prancis, dan Jepang untuk segera mengirimkan kapal perang guna mengamankan Selat Hormuz sebagai jalur kritis pasokan minyak global.

Sementara itu, Pentagon telah mengonfirmasi gugurnya enam personel AS dalam insiden jatuhnya pesawat di Irak, yang menambah daftar panjang kerugian di pihak sekutu.

Kondisi kemanusiaan di Lebanon selatan juga memprihatinkan akibat bentrokan langsung antara Hezbollah dan pasukan Israel di kota Khiam.

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 826 orang tewas sejak perang terbaru pecah.

Meski situasi kian sulit, Pemerintah Lebanon kini tengah berupaya membentuk delegasi untuk memulai negosiasi gencatan senjata yang direncanakan berlangsung di Paris atau Siprus.

Share:

Related Post

Leave a Comment