Khamenei Gugur Digempur 30 Bom, Iran Tetapkan 40 Hari Berkabung Nasional

ochaapp

No comments
Ketua Revolusyen Islam, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei. (Dok. Khamenei.ir)

Tintanarasi.com, Internasional – Otoritas Republik Islam Iran secara resmi mengonfirmasi gugurnya Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei usai koalisi militer Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan gempuran udara berskala besar ke ibu kota Teheran pada Sabtu (28/02/2026).

Kabar duka ini diumumkan dengan penuh isak tangis oleh presenter televisi pemerintah IRIB pada Minggu (01/03/2026), sekaligus menepis berbagai kesimpangsiuran informasi yang sempat beredar.

Tragedi ini tidak hanya merenggut nyawa sang pemimpin tertinggi.

Berdasarkan laporan dari kantor berita Fars, serangan rudal yang menghancurkan kompleks kediaman Khamenei tersebut juga menewaskan sejumlah anggota keluarga intinya, termasuk putri, menantu, hingga cucu-cucunya.

Mengutip sumber militer, sedikitnya 30 bom presisi dijatuhkan tepat di jantung pertahanan Teheran tersebut.

Sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi sosok yang telah memimpin negara sejak 1989 itu, pemerintah Iran mendeklarasikan 40 hari masa berkabung nasional yang diiringi dengan penetapan tujuh hari libur resmi.

Kematian Khamenei memicu kemarahan besar di internal militer Iran. Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas bahwa “tangan pembalasan bangsa Iran tidak akan membiarkan musuh lolos begitu saja.”

Ancaman ini langsung dibuktikan dengan peluncuran rudal balistik balasan oleh militer Iran yang menyasar Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di negara-negara Teluk seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.

Di kubu seberang, para pemimpin Barat merayakan keberhasilan operasi militer ini.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyebut hancurnya kediaman Khamenei sebagai akhir dari diktator kejam yang selama tiga dekade menyebarkan teror.

Hal senada diungkapkan oleh Presiden AS Donald Trump melalui platform Truth Social miliknya.

“Khamenei, salah satu orang paling jahat dalam sejarah, telah mati,” pangkas Trump secara terbuka sesaat setelah operasi dinyatakan berhasil, seperti dikutip dari Liputan6.

Kematian Khamenei menjadi pukulan monumental bagi lanskap politik Iran.

Pria kelahiran Mashhad pada 19 April 1939 ini merupakan figur historis yang ikut menumbangkan rezim Shah yang pro-Barat dalam Revolusi Islam bersama Imam Ruhollah Khomeini.

Pengalaman panjangnya diasingkan oleh polisi rahasia SAVAK, serta kepemimpinannya sebagai presiden di masa perang berdarah Iran-Irak pada era 1980-an, telah membentuk ketidakpercayaannya yang sangat mengakar terhadap AS dan negara-negara Barat.

Kini, dengan kepergian sang martir revolusi, dunia internasional tengah bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik yang belum pernah terjadi sebelumnya di kawasan Timur Tengah.

Share:

Related Post

Leave a Comment