Profil Mojtaba Khamenei: Arsitek Milisi Represif yang Kini Pegang Kendali Penuh Kekuasaan Iran

ochaapp

No comments
Ilustrasi Ali Khamenei memberikan bendera Iran ke putranya. (Telegram IRGC)

Tintanarasi.com, Internasional – Di tengah eskalasi konflik bersenjata yang kian memanas di kawasan Timur Tengah, tampuk kekuasaan tertinggi Republik Islam Iran secara resmi beralih.

Keputusan krusial ini ditetapkan oleh Majelis Ahli pada Senin (09/03/2026), yang menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai suksesor ayahnya, Ali Khamenei, usai sang ayah gugur dalam operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel.

Penunjukan pria berusia 56 tahun ini seolah menjadi sinyalemen tegas bahwa faksi garis keras masih mencengkeram kuat sistem pemerintahan di Teheran dan menolak jalur kompromi.

Keputusan Majelis Ahli ini ternyata selaras dengan wasiat mendiang sang ayah sebelum wafat. Anggota Majelis Ahli, Mohsen Heidari Alekasir, membeberkan kriteria utama yang menjadi landasan pemilihan tersebut.

“Kandidat dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya ‘dibenci oleh musuh’,” ungkap Mohsen dalam sebuah rekaman video yang dirilis ke publik.

Naiknya Mojtaba menuai sorotan tajam lantaran dianggap mematahkan tradisi anti-dinasti yang selama ini menjadi fondasi Revolusi 1979.

Meski tak pernah menduduki jabatan resmi di pemerintahan, selama bertahun-tahun ia dikenal sebagai arsitek tangguh di balik layar.

Ia memiliki rekam jejak kedekatan yang sangat erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta paramiliter Basij.

Jaringan inilah yang diyakini membantunya memengaruhi hasil pemilu 2005 dan 2009, serta memberangus berbagai gelombang protes antipemerintah, termasuk kerusuhan besar pada 2022.

Sepak terjangnya yang represif dan sikap kerasnya menolak diplomasi dengan negara Barat telah membuat Washington menjatuhkan sanksi berlapis kepadanya sejak tahun 2019.

Transisi kepemimpinan ini terjadi pada titik yang sangat kritis. Pemerintahan baru langsung dihadapkan pada ancaman nyata dari luar negeri.

Militer Israel (IDF) secara terang-terangan mengancam akan memburu siapa saja yang terlibat dalam penunjukan penerus Ali Khamenei. Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menolak mentah-mentah naiknya Mojtaba.

Trump secara terbuka menyebutnya sebagai sosok yang tidak berbobot dan menuntut agar Washington dilibatkan dalam penentuan pemimpin baru di Teheran demi mencegah perang lima tahun ke depan.

Dampak dari peperangan ini juga telah meluas secara regional dan merugikan pihak keluarga penguasa secara langsung.

Akhir pekan lalu, istri Mojtaba yang merupakan putri dari tokoh konservatif Gholamali Haddadadel dilaporkan turut tewas akibat serangan udara.

Di negara tetangga, sistem pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) terpaksa mencegat rentetan pesawat nirawak dan rudal balistik dari Iran yang memicu kepanikan di wilayah Dubai dan Abu Dhabi.

Menanggapi berbagai intervensi dan ancaman dari blok Barat terhadap suksesi di Teheran, pemerintah China langsung pasang badan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Guo Jiakun, menegaskan bahwa negara-negara lain tidak berhak ikut campur karena kedaulatan Iran harus dihormati dan proses pemilihan pemimpin adalah mutlak urusan internal negara tersebut.

Share:

Related Post

Leave a Comment