Tintanarasi.com, Internasional – Konflik bersenjata yang melibatkan Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel kini telah memasuki hari ke-13 tanpa ada tanda-tanda mereda.
Di tengah eskalasi yang mengkhawatirkan kawasan Timur Tengah tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian secara terbuka memaparkan sejumlah tuntutan mutlak bagi Washington dan Tel Aviv jika ingin pertumpahan darah ini dihentikan.
Sikap tegas tersebut disampaikan oleh Pezeshkian melalui akun media sosial X miliknya, bertepatan dengan komunikasi diplomatik yang ia lakukan bersama Presiden Rusia Vladimir Putin dan petinggi Pakistan pada Rabu (11/03/2026) hingga Kamis (12/03/2026).
Ia menegaskan bahwa Teheran menuntut pengakuan hak kedaulatan, pembayaran ganti rugi atas kerusakan perang, serta adanya jaminan keamanan internasional.
“Berbicara dengan Rusia dan Pakistan, Saya menegaskan komitmen Iran atas perdamaian di kawasan. Satu-satunya cara menghentikan perang ini — yang disuluh oleh rezim Zionis dan AS — adalah mengakui hak sah Iran, membayar reparasi, dan garansi internasional yang tegas menentang agresi di masa depan,” kata Pezeshkian menegaskan posisinya.
Upaya diplomatik ini terjadi di tengah duka mendalam bagi Iran.
Sejak invasi gabungan dimulai pada akhir bulan lalu, otoritas setempat melaporkan lebih dari 1.200 warga tewas, termasuk Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, serta lebih dari 10.000 orang terluka.
Besarnya skala kehancuran ini membuat para pejabat tinggi di Teheran bersikap sangat skeptis terhadap janji-janji diplomasi dari kubu Barat.
Penasihat kebijakan luar negeri Iran, Kamal Kharazi, menyatakan bahwa negaranya siap menghadapi skenario perang panjang jika tuntutan mereka diabaikan.
Ketegangan di meja perundingan ini sejalan dengan panasnya situasi di medan tempur.
Kelompok militan Hizbullah baru saja meluncurkan “Operasi Dimakan Ulat” dengan menembakkan sedikitnya 100 roket ke wilayah Israel bagian utara dan tengah pada Kamis (12/03/2026).
Di saat bersamaan, Juru Bicara Angkatan Bersenjata Iran, Abolfazl Shekarchi, turut melontarkan ancaman keras terkait keberadaan fasilitas militer AS di wilayah perairan regional.
Keberhasilan operasi militer Iran ini turut disuarakan oleh Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi.
Ia menyebut bahwa serangan balasan Teheran telah memberikan dampak destruktif yang sengaja ditutupi oleh sensor ketat militer Israel pada Rabu (11/03/2026).
“Ini apa yang dilaporkan oleh pria dan wanita kami di lapangan: kerusakan total akibat rudal-rudal kami, para pemimpin panik, dan sistem pertahanan udara dalam kekacauan. Dan kami baru saja memulai,” ungkap Araghchi, dikutip dari Republika.
Di sisi lain, keengganan untuk terjebak dalam konflik berkepanjangan juga mulai disuarakan oleh otoritas Israel.
Hal ini mengemuka setelah Kanselir Jerman Friedrich Merz mengutarakan kecemasannya atas ketiadaan rencana penghentian perang yang jelas dari kubu koalisi.
Merespons kekhawatiran Eropa tersebut, Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar memberikan klarifikasi usai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul pada Selasa (10/03/2026).
“Kami tidak menginginkan perang tanpa akhir,” ucap Saar kepada awak media di Yerusalem.
Meski demikian, ia menekankan bahwa operasi militer tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
“Kami akan melanjutkan hingga saat kami dan mitra kami menganggap bahwa sudah tepat untuk berhenti.”
Ketika didesak mengenai kriteria kemenangan mutlak yang dicari oleh Tel Aviv, Saar menutup pernyataannya dengan penegasan target utama mereka.
“Kami ingin menghilangkan, untuk jangka panjang, ancaman eksistensial dari Iran terhadap Israel,” pungkasnya.







Leave a Comment