Ancam Turunkan Neraka ke Iran, Donald Trump Beri Ultimatum Waktu 48 Jam

ochaapp

No comments
Foto: The White House

Tintanarasi.com, Internasional – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kian berada di ambang krisis menyusul rentetan ancaman agresif yang dilontarkan oleh Donald Trump.

Memasuki pekan keenam sejak pecahnya konflik berdarah yang telah menewaskan Ali Khamenei dan ribuan warga sipil lainnya, orang nomor satu di Amerika Serikat (AS) tersebut kembali memberikan tenggat waktu yang sangat ketat kepada Teheran.

Peringatan keras ini ia sampaikan melalui platform media sosial Truth Social pada Sabtu (04/04/2026), tepat di tengah berlangsungnya operasi pencarian terhadap seorang pilot AS yang hilang akibat penembakan jatuh jet tempur F-15E di wilayah Iran.

Dalam unggahannya tersebut, Trump menuntut Iran untuk segera menyepakati perjanjian nuklir atau membuka kembali akses perlintasan di Selat Hormuz.

Ia bahkan menyisipkan frasa religius di akhir pesannya, meskipun kesalahan pengetikan kata “reign” menjadi “rain” sempat memicu sorotan publik yang menilai narasi ancaman tersebut menjadi kurang berwibawa.

“Ingat ketika saya memberi Iran sepuluh hari untuk Membuat Perjanjian atau Membuka Selat Hormuz. Waktu hampir habis, 48 jam sebelum semua neraka akan turun menimpa mereka, Segala kemuliaan bagi TUHAN!” tulis Trump memberikan ultimatum.

Sikap keras ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari retorika Washington yang terus berubah-ubah.

Sebelumnya, saat berpidato resmi di Gedung Putih, Trump melontarkan ancaman brutal yang menyatakan kesiapan militer AS untuk melancarkan serangan bertubi-tubi ke infrastruktur strategis musuhnya dalam dua hingga tiga pekan ke depan.

“Kita akan membawa mereka kembali ke zaman batu, tempat mereka seharusnya berada,” tegasnya tanpa kompromi.

Meski demikian, manuver Trump di panggung internasional kerap memicu kebingungan akibat sikapnya yang dinilai sangat plinplan.

Sempat meminta bantuan armada militer dari negara sekutu untuk mengamankan Selat Hormuz, ia justru berbalik melontarkan kemarahan dan sindiran tajam kepada negara-negara Barat yang menolak permintaannya.

Ia bahkan dengan lantang menyebut aliansi Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tak lebih dari sekadar macan kertas.

“Para pengecut, dan kita akan mengingatnya!” sindir Trump merujuk pada keengganan negara-negara sekutunya.

Di sisi lain, Iran sama sekali tidak menunjukkan sikap gentar menghadapi gempuran tekanan militer maupun ekonomi tersebut.

Otoritas di Teheran menolak mentah-mentah tawaran negosiasi di Islamabad dan terus membalas dengan menargetkan berbagai fasilitas terafiliasi AS di negara-negara Teluk.

Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tunduk dan kini tengah menyusun aturan independen bersama Kesultanan Oman untuk mengatur pergerakan kapal yang melintasi jalur perairan vital tersebut.

“Kami sedang mengembangkan protokol bagi Iran dan Oman untuk memantau lalu lintas dan navigasi melalui Selat Hormuz,” ungkap Kazem, seperti dikutip dari CNBC.

Tertutupnya akses Selat Hormuz yang selama ini menjadi urat nadi bagi seperlima pasokan energi dunia sontak membuat pasar global terguncang hebat.

Harga minyak mentah Brent dilaporkan melonjak hingga 7 persen menyentuh angka US$108 per barel, memicu defisit bahan bakar yang berpotensi melahirkan krisis biaya hidup di berbagai benua, dari Asia hingga Afrika.

Menghadapi peliknya krisis rantai pasok ini, Inggris berinisiatif memimpin pertemuan virtual yang melibatkan 40 negara untuk mencari celah solusi diplomatik.

Sejalan dengan hal tersebut, Presiden Prancis, Emmanuel Macron, turut mengingatkan bahwa upaya pemulihan kebebasan navigasi di kawasan perairan konflik tidak akan bisa dicapai secara sepihak.

“Hal itu hanya dapat dilakukan dengan berkonsultasi dengan Iran,” sebut Emmanuel Macron mengingatkan pentingnya dialog.

Di tengah kebuntuan jalur diplomasi dan ancaman eskalasi yang tak berkesudahan, Pemimpin Tertinggi Gereja Katolik, Leo XIV, telah mengeluarkan imbauan keras kepada seluruh kepala negara agar tidak memanipulasi sentimen keagamaan demi membenarkan peperangan.

Seruan damai tersebut menggema di saat jumlah korban terus berjatuhan, dengan catatan lebih dari 1.900 nyawa melayang di pihak Iran, termasuk ratusan anak-anak, serta belasan anggota militer AS yang turut tewas dalam konflik terbuka ini.

Share:

Related Post

Leave a Comment