Gencatan Senjata Diabaikan, Gempuran Brutal Israel ke Lebanon Tewaskan Ratusan Korban

ochaapp

No comments
Foto: Unsplash

Tintanarasi.com, Internasional – Gempuran udara yang sangat masif kembali diarahkan oleh Israel ke berbagai titik di Lebanon, tepatnya pada Rabu (8/4/2026).

Serangan mematikan ini menghancurkan kawasan Dahiyeh di selatan Beirut, Lembah Bekaa, dan beberapa wilayah sekitarnya.

Otoritas militer Israel mengonfirmasi bahwa mereka telah menembakkan proyektil ke lebih dari seratus sasaran, termasuk infrastruktur militer dan pusat komando Hizbullah, hanya dalam durasi sepuluh menit, menjadikannya rekor serangan paling parah sejak eskalasi bulan lalu.

Dampak dari agresi militer tersebut memicu jatuhnya banyak korban jiwa. Menurut data dari pihak berwenang, sedikitnya 254 hingga 300 orang dinyatakan tewas, sementara lebih dari seribu orang lainnya menderita luka-luka, membuat rumah sakit setempat kewalahan.

Situasi krisis ini dijelaskan langsung oleh Menteri Kesehatan Lebanon, Rakan Nassereddine, yang mengecam keras insiden tersebut.

“Kami menghadapi eskalasi berbahaya yang terjadi di Lebanon, agresi Israel dengan lebih dari 100 serangan udara yang menargetkan warga sipil tak berdosa di Beirut, Dahiyeh, Bekaa, Gunung Lebanon, dan selatan,” kata Rakan Nassereddine kepada Al Jazeera.

Serangan membabi buta ini memicu amarah dari pihak Teheran, lantaran dilakukan tak lama usai Amerika Serikat dan Iran menyetujui penghentian permusuhan sementara selama dua pekan.

Pemimpin Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menuduh Washington telah merusak tiga poin utama dari proposal damai tersebut, termasuk berlanjutnya serangan di Lebanon, masuknya pesawat nirawak AS ke wilayah Iran, dan penolakan atas hak pengayaan uranium.

“Ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap Amerika Serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen, sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” tulis Ghalibaf di media sosial X.

Ia pun menegaskan, “Dalam situasi seperti ini, gencatan senjata bilateral atau negosiasi tidak masuk akal.”

Seorang pejabat senior Iran juga turut memberikan peringatan keras atas gempuran tersebut kepada pihak media.

“Kami akan menghukum Israel sebagai tanggapan atas kejahatan yang dilakukannya di Lebanon dan pelanggarannya terhadap ketentuan gencatan senjata,” kata dia kepada Al Jazeera.

Menanggapi berbagai tudingan yang diarahkan pada negaranya, Wakil Presiden AS, JD Vance, melontarkan pembelaan saat dirinya sedang dalam perjalanan ke Hungaria.

“Gencatan senjata selalu rumit,” kata Vance.

Ia berargumen bahwa status perluasan gencatan senjata di Lebanon tidak pernah dimasukkan ke dalam kerangka negosiasi oleh pihak AS.

“Jika Iran ingin membiarkan negosiasi ini gagal dalam konflik di mana mereka dihantam habis-habisan terkait Lebanon, yang tidak ada hubungannya dengan mereka dan yang tidak pernah sekalipun dikatakan Amerika Serikat sebagai bagian dari gencatan senjata, itu pada akhirnya adalah pilihan mereka,” ucap Vance.

Pernyataan Vance ini sedikit berbeda dengan pandangan Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, selaku pihak yang memediasi.

Sharif sempat menyebutkan di media sosial bahwa penghentian tembak-menembak semestinya berlaku menyeluruh termasuk di Lebanon.

Sementara itu, jajaran pejabat pertahanan Israel memastikan kampanye militer mereka akan terus berjalan.

Menteri Pertahanan Israel, Yisrael Katz, secara terbuka mengklaim bahwa tindakan di perbatasan tersebut merupakan upaya “untuk mengubah kenyataan di Lebanon dan menghilangkan ancaman yang dihadapi Israel utara.”

Dari sisi perlawanan Lebanon, Hassan Fadlallah selaku anggota parlemen dari blok Hizbullah, menilai bahwa manuver militer Tel Aviv hanyalah taktik untuk menutupi kegagalan mereka sebelumnya.

Ia menyebut Israel berusaha “menghindari keputusan gencatan senjata terkait front Lebanon dalam upaya untuk mengimbangi kekalahannya dalam agresi terhadap Iran.”

Fadlallah juga menambahkan bahwa “kejahatan Israel di Lebanon tidak dapat menghapus citra kekalahannya di hadapan Iran”,

Imbas dari kekacauan konflik Timur Tengah ini tidak hanya melumpuhkan wilayah setempat, tetapi juga mulai merusak tatanan global, seperti terganggunya rute pelayaran di Selat Hormuz yang dapat memicu krisis energi dunia.

Share:

Related Post

Leave a Comment