Delegasi Pulang Tanpa Mufakat, Nasib Gencatan Senjata AS-Iran Makin Tidak Pasti

ochaapp

No comments
Foto: Unsplash

Tintanarasi.com, Internasional – Pertemuan tingkat tinggi antara Amerika Serikat dan Iran yang dihelat di Islamabad, Pakistan, dipastikan berakhir tanpa mufakat pada Minggu (12/04/2026).

Dialog maraton yang memakan waktu 21 jam tersebut hancur lebur akibat ketidaksepahaman tajam soal penghentian program nuklir dan kendali Selat Hormuz.

Wakil Presiden AS, JD Vance, yang memimpin delegasi Washington merasa sangat pesimistis atas hasil diplomasi ini.

“Kami telah melakukan sejumlah diskusi substantif dengan Iran, itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan. Dan menurut saya ini adalah kabar buruk bagi Iran, jauh lebih buruk daripada bagi AS,” ucap JD Vance, dikutip dari CNN Indonesia.

Ia menegaskan bahwa kubu Washington tidak akan menurunkan standarnya, terutama terkait pelucutan senjata pemusnah massal.

“Kami kembali ke Amerika Serikat tanpa kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa saja garis merah kami,” tambahnya JD Vance.

Bahkan, ia menyebut draf yang dibawa oleh timnya adalah tawaran paling masuk akal dan yang terakhir.

Sementara itu, Presiden AS Donald Trump justru menanggapi kebuntuan perundingan ini dengan sikap yang jauh lebih santai.

Melalui jejaring sosialnya, ia menyoroti bahwa isu nuklir menjadi satu-satunya pengganjal utama.

“Pertemuan berlangsung baik, sebagian besar poin telah disepakati, tetapi satu-satunya poin yang benar-benar penting, yaitu NUKLIR, belum tercapai,” tulis Trump.

Merasa posisi geopolitik negaranya jauh lebih superior, Trump pun tidak ambil pusing soal kegagalan diplomasi di Pakistan tersebut.

Terkait ketegangan di perairan Selat Hormuz, di mana Teheran bermaksud memungut tarif untuk setiap kapal yang melintas, sang Presiden merespons dengan keras.

“Tidak ada pihak yang membayar biaya ilegal yang akan mendapat jalur aman di laut lepas,” lanjut Donald Trump.

Guna mencegah pungutan tersebut, ia bahkan telah menyiapkan intervensi kekuatan militer.

Ancaman itu kemudian ditutup dengan peringatan tegas yang menargetkan akses kelautan Iran.

Di pihak lawan, Teheran memandang seluruh syarat yang diajukan Washington sangat tidak rasional.

Media resmi pemerintah IRIB merilis keterangan tertulis untuk membeberkan alasan mandeknya perundingan tersebut.

“Delegasi Iran bernegosiasi secara terus-menerus dan intensif selama 21 jam untuk melindungi kepentingan nasional rakyat Iran, namun tuntutan tidak masuk akal dari pihak Amerika menghalangi kemajuan negosiasi,” jelas pihak IRIB, dikutip dari Kumparan.

Keraguan mendalam terhadap niat baik AS juga dilontarkan oleh Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf.

“Pengalaman kami bernegosiasi dengan Amerika selalu berujung pada kegagalan dan janji yang dilanggar,” sebut Mohammad Bagher Ghalibaf.

Ia menegaskan bahwa keberlanjutan proses negosiasi dan pembangunan rasa saling percaya kini sepenuhnya berada di tangan Washington.

Faktor eksternal seperti gempuran militer Israel terhadap kelompok Hizbullah di Lebanon juga memperburuk suasana diplomasi.

Terkait hal tersebut, Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengisyaratkan kesiapan tempur jika sekutu regional mereka terus diserang.

Buntut dari rentetan kebuntuan dan ketidakpercayaan tersebut, Iran dilaporkan enggan untuk menjadwalkan pembicaraan baru dengan AS.

Share:

Related Post

Leave a Comment