Tintanarasi.com, Internasional – Awan hitam kembali menyelimuti dunia olahraga internasional menyusul gugurnya seorang atlet sepak bola asal Palestina.
Saleem Al-Ashqar, penjaga gawang yang berkarier di liga lokal Jalur Gaza, dilaporkan mengembuskan napas terakhir setelah menjadi target penembakan oleh pasukan militer Israel di wilayah Al-Qarara, yang terletak di sebelah timur laut Kota Khan Younis, pada Senin (29/06/2026).
Kepastian mengenai insiden tragis ini telah diverifikasi secara resmi oleh Asosiasi Sepak Bola Palestina (PFA) dalam pernyataan publiknya.
Kepergian penjaga gawang berusia 32 tahun itu meninggalkan kepedihan yang sangat mendalam, tidak hanya bagi komunitas sepak bola, tetapi juga bagi keluarga besarnya.
Berdasarkan informasi dari berbagai sumber lokal di Gaza, insiden berdarah ini merenggut nyawa Al-Ashqar di saat ia baru mencicipi usia pernikahan selama lima bulan.
Yang lebih menyayat hati, sang istri saat ini diketahui tengah mengandung anak pertama mereka—sebuah harapan baru yang kini harus sirna akibat konflik bersenjata.
Selain itu, almarhum juga tercatat sebagai satu-satunya anak laki-laki dari delapan bersaudara dalam keluarganya.
Sepanjang karier profesionalnya di lapangan hijau, Al-Ashqar dikenal sebagai benteng pertahanan terakhir yang tangguh bagi klub Khan Younis Services.
Sebelum kompetisi sepak bola di Gaza lumpuh total akibat agresi militer, ia juga pernah menyumbangkan dedikasinya dengan memperkuat kesebelasan Al-Aqsa serta Al-Masdar.
Dalam keterangan resminya, pihak PFA menyatakan rasa kehilangan yang mendalam atas terus bergugurannya para patriot olahraga Palestina di tengah agresi yang mereka sebut sebagai tindakan genosida.
“Penjaga gawang tim Khan Younis Services, Salim Khader Al-Ashqar (32 tahun), bergabung dengan barisan para martir gerakan olahraga Palestina, setelah ia gugur hari ini, Senin, akibat tembakan tentara pendudukan di kota Al-Qarara, timur laut kota Khan Younis,” tulis PFA dalam rilis resminya.
Lembaga otoritas sepak bola Palestina tersebut menambahkan bahwa Al-Ashqar bukanlah satu-satunya insan olahraga yang menjadi korban keganasan perang yang telah berkecamuk sejak Oktober 2023.
Hingga detik ini, daftar kelam korban jiwa dari kalangan atlet terus mengalami lonjakan yang memprihatinkan.
“Dengan gugurnya Al-Ashqar, jumlah martir dari gerakan olahraga sejak dimulainya perang genosida meningkat menjadi 1.009 martir, termasuk 567 martir dari keluarga sepak bola di Palestina,” ungkap pihak asosiasi memperjelas besarnya skala kerugian yang dialami dunia olahraga setempat.
Tragedi kemanusiaan yang menimpa Al-Ashqar dengan cepat memicu gelombang empati dan kecaman dari berbagai belahan dunia.
Salah satu respons solidaritas datang dari klub sepak bola kasta tertinggi di Liga Chile, Deportivo Palestino.
Klub yang didirikan oleh para imigran Palestina di Amerika Selatan tersebut mengeluarkan pernyataan sikap pada Rabu (01/07/2026) untuk mengecam tindakan kekerasan yang terus berulang.
“Kami sangat berduka atas kematian tragis kiper Palestina berusia 32 tahun, Salim Al-Ashqar. Ia dibunuh oleh tentara Israel. Kami sangat sedih atas terus berlanjutnya peristiwa seperti ini. Kami menyerukan keadilan dan perdamaian,” tegas pernyataan resmi dari manajemen Deportivo Palestino.
Gugurnya Al-Ashqar menjadi bukti nyata bahwa situasi keamanan di Gaza masih jauh dari kata kondusif, meskipun sejumlah laporan sempat menyebutkan adanya upaya gencatan senjata.
Serangan darat maupun udara masih terus memakan korban jiwa dari kalangan sipil di berbagai titik, termasuk di wilayah Gaza Tengah seperti Deir al-Balah, yang membuat para atlet dan warga Palestina harus terus berjuang mempertahankan hidup di tengah ketidakpastian setiap detiknya.




Leave a Comment