Pengakuan Relawan Flotilla Gaza Asal Indonesia di Podcast Deddy Corbuzier

Yoda Yuuki

No comments
Abeng, Tody, Angga dalam podcast Deddy Corbuzier (Screenshot)

Tintanarasi.com, Nasional – Kekejaman militer Israel terhadap relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 akhirnya terungkap ke publik secara gamblang.

Fakta-fakta memilukan ini dibongkar tuntas dalam tayangan podcast di kanal YouTube Deddy Corbuzier yang menghadirkan langsung para korban selamat asal Indonesia.

Tiga partisipan yang terdiri dari aktivis Angga, serta dua jurnalis Republika, Abeng dan Todi, hadir menceritakan pengalaman pahit mereka bersama Ustaz Felix.

Para relawan ini tidak hanya dicegah untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan ke Gaza, namun juga mengalami penyiksaan fisik dan psikologis yang keji selama berada di tangan otoritas Israel.

Perlakuan tidak manusiawi tersebut dialami oleh partisipan dari berbagai negara secara acak dan brutal.

Deddy Corbuzier dalam diskusinya menyoroti bahwa tindakan penyiksaan ini seakan sengaja dilakukan hanya untuk bersenang-senang serta menebar rasa trauma kepada para relawan.

Salah satu partisipan asal Spanyol bahkan ditembak dari jarak dekat menggunakan peluru karet tanpa alasan yang dibenarkan.

“Itu ada yang ditembak dengan jarak dekat itu pakai peluru karet… perempuan itu ditembak point blank iya di paha kanan,” ungkap Abeng.

Kekejaman lain yang sangat mengerikan dialami oleh sesama jurnalis asal Indonesia, di mana ia disetrum berulang kali secara acak oleh penjaga. “Ada yang disetrum, ada yang dipukul.

Jadi alasannya apa? Mungkin random aja dia. Dan setrumnya gak cuma sekali ya. Bisa ada 8 titik setruman gitu,” papar Todi.

Selama masa penahanan darurat di kapal dan penjara Kziot, para tahanan dibiarkan kedinginan, ditelanjangi berulang kali, serta tidak diberikan akses air bersih dan fasilitas medis yang memadai.

Kondisi ekstrem ini memaksa para relawan yang terluka parah untuk bertahan hidup menggunakan fasilitas seadanya yang sangat memprihatinkan.

Roti beku yang keras dan tak layak makan pada akhirnya dimanfaatkan sebagai alat medis darurat, yakni digunakan sebagai gips untuk menahan tulang rusuk relawan yang retak akibat siksaan.

“Roti itu kan dingin, beku gitu ya keras. Sementara orang-orang yang habis dipukulin, habis disiksa itu kan banyak yang rusuknya tuh reta-retak, jadi gak bisa gerak, patah harus digip. Nah, digipnya pake itu,” kenang Todi di podcast tersebut. Bahkan secara psikologis martabat mereka direndahkan, seperti yang dialami oleh Todi ketika panggilannya diubah menjadi nama hewan dan diperintah layaknya peliharaan oleh penjaga sel.

Kendati dihadapkan pada intimidasi dan kekerasan yang mematikan, keteguhan hati para partisipan tidak luntur dan misi utama mereka untuk kembali mengarahkan atensi masyarakat global kepada penderitaan Palestina tetap membara.

Mereka sepenuhnya menyadari bahwa keikutsertaan mereka di atas kapal flotilla bukan semata-mata soal mengantarkan logistik fisik, melainkan juga untuk menciptakan tekanan berskala global agar kejahatan kemanusiaan di Gaza tidak dimaklumi sebagai suatu kenormalan.

“Kita cuma hanya melakukan itu untuk jadi semacam memberi kebisingan aja kita ciptakan kebisingan dunia ini untuk kembali lagi nih mata dunia itu ke Palestina,” tegas Abeng.

Perjuangan berat serta daya tahan mental dari para partisipan ini pada akhirnya berbuah manis saat mereka bisa kembali berkumpul bersama keluarga tercinta. Suasana haru dan penuh rasa syukur mewarnai kepulangan sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2.0 ini.

Melalui pendampingan organisasi Global Peace Convoy Indonesia, para relawan tersebut akhirnya berhasil mendarat dengan selamat di Tanah Air pada Minggu (24/05/2026) sekitar pukul 15.30 WIB.

Insiden penahanan tersebut bermula ketika kapal yang ditumpangi kesembilan warga negara Indonesia diintersepsi secara sepihak oleh armada bersenjata pasukan Israel.

Pencegatan brutal itu terjadi di perairan sipil perbatasan Siprus, Mediterania Timur, pada Senin (18/05/2026). Para relawan kemanusiaan nirkekerasan itu kemudian dibawa paksa dan ditahan di kota Ashdod, Israel.

Merespons memburuknya krisis penahanan tersebut, jajaran Pemerintah Republik Indonesia langsung bertindak cepat dalam menyelamatkan warga negaranya.

Setelah melewati serangkaian upaya diplomatik dan pelayanan kekonsuleran yang intensif, serta berkolaborasi dengan berbagai elemen pendukung termasuk perwakilan GSF dan Global Peace Convoy Indonesia, kesembilan orang tersebut akhirnya bisa menghirup kebebasan pada Kamis (21/05/2026).

Sebelum diberangkatkan pulang ke Tanah Air, perwakilan Indonesia terlebih dahulu memfasilitasi mereka untuk menerima perawatan dan pemeriksaan kesehatan paripurna di fasilitas medis di Istanbul, Turki.

Pendaratan pahlawan kemanusiaan ini disambut secara langsung oleh Menteri Luar Negeri Sugiono.

“Kami mengucapkan selamat datang kembali ke Tanah Air dan selamat berkumpul bersama keluarga,” ungkap Sugiono dengan hangat.

Secara lebih lanjut, Sugiono menjelaskan bahwa kesuksesan evakuasi dan pembebasan para tawanan kemanusiaan ini tak lepas dari hasil kerja keras serta koordinasi diplomatik lintas batas negara yang diupayakan oleh instansi Pemerintah Indonesia secara sinergis.

Ia membeberkan bahwa jajaran Kementerian Luar Negeri melalui Direktorat Pelindungan Warga Negara Indonesia terus memanfaatkan ruang diplomasi dengan memberdayakan operasional dari lima perwakilan kunci RI di Timur Tengah dan Eropa, yakni KBRI Ankara, KJRI Istanbul, KBRI Amman, KBRI Kairo, serta KBRI Roma.

Dalam penjemputan tersebut, Sugiono juga tidak lupa menghaturkan apresiasi serta terima kasih yang mendalam kepada otoritas Pemerintah Turki atas dukungan penuh serta peran proaktifnya dalam menaungi masa transisi pemulangan seluruh relawan asal Indonesia.

Keberhasilan operasi diplomatik ini kembali tercatat sebagai bukti komitmen dan wujud kehadiran utuh negara untuk memastikan keselamatan setiap warga sipil yang berbakti di luar wilayah kedaulatan, sekaligus menghapus kekhawatiran yang membelenggu pihak keluarga di Indonesia.

Sebagai komitmen teguh bangsa, pemerintah pusat kembali menegaskan kecaman keras secara resmi atas intervensi kekerasan pada pelayaran kapal bantuan non-kombatan di perairan bebas serta perlakuan sangat tidak manusiawi yang dibebankan kepada pihak relawan selama masa penyekapan di wilayah Israel.

Aksi perampasan HAM sewenang-wenang yang sengaja merendahkan martabat relawan kemanusiaan global tersebut dikategorikan secara absolut sebagai pelanggaran telak terhadap kesepakatan hukum internasional dan konvensi hukum humaniter yang tidak bisa ditoleransi dalam dalih keamanan apa pun.

Share:

Related Post

Leave a Comment