Uang Banyak Tapi Hati Kosong: Menyingkap Akar Kegelisahan Manusia Modern

Yoda Yuuki

No comments
Foto: Unsplash

Tintanarasi.com, Ragam – Banyak orang beranggapan bahwa puncak kebahagiaan manusia akan tercapai ketika seluruh kebutuhan finansialnya terpenuhi.

Secara logika, tumpukan uang yang banyak seharusnya berbanding lurus dengan ketenangan hidup. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan hal yang sebaliknya.

Tidak sedikit individu yang hidup bergelimang harta justru dihantui oleh rasa cemas, stres, dan kegelisahan yang tak berkesudahan.

Fenomena ini bukanlah hal baru. Ratusan tahun yang lalu, sang Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, telah mengupas tuntas penyakit hati yang bersumber dari kecintaan berlebih terhadap dunia.

Kegelisahan tersebut muncul bukan karena nominal hartanya, melainkan karena salah menempatkan fungsi harta di dalam diri.

Dalam kitab Ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali memberikan perumpamaan yang sangat tajam mengenai tabiat nafsu manusia terhadap kekayaan:

مَثَلُ الدُّنْيَا كَمَثَلِ مَاءِ الْبَحْرِ، كُلَّمَا شَرِبَ مِنْهُ الْعَطْشَانُ ازْدَادَ عَطَشًا حَتَّى يَقْتُلَهُ

“Perumpamaan dunia (harta dan kemewahan) itu seperti air laut. Semakin banyak orang yang haus meminumnya, semakin bertambah pula rasa hausnya, sampai akhirnya (air laut itu) membunuhnya.”

Sifat air laut tidak akan pernah bisa menghilangkan dahaga. Ketika seseorang menjadikan harta sebagai tujuan utama untuk memuaskan jiwanya, yang didapat hanyalah rasa kurang yang abadi dan ketakutan akan kehilangan.

Jiwa manusia pada dasarnya bersifat rohani, sehingga tidak akan pernah merasa kenyang jika hanya diberi asupan materi. Tubuh fisik membutuhkan makanan dan fasilitas, tetapi jiwa membutuhkan kedamaian spiritual.

Dorongan hawa nafsu yang tidak terkendali terhadap harta sering kali menjadi akar dari hancurnya kedamaian hidup seseorang.

Lebih lanjut, Imam Al-Ghazali mengibaratkan harta seperti hewan melata yang berbahaya, namun bisa dimanfaatkan jika tahu ilmunya:

فَإِنَّ الْمَالَ كَالْحَيَّةِ فِيهِ سُمٌّ وَتِرْيَاقٌ، فَسُمُّهُ غَوَائِلُهُ، وَتِرْيَاقُهُ فَوَائِدُهُ

“Sesungguhnya harta itu ibarat ular; di dalamnya terdapat racun sekaligus penawar. Racunnya adalah keburukan atau bahayanya, dan penawarnya adalah manfaatnya.”

Di dalam tubuh ular terdapat racun yang mematikan, namun di saat yang sama terdapat pula penawar yang bermanfaat. Bagi mereka yang tidak tahu cara mengendalikannya, harta akan menjadi racun yang mematuk ketenangan batin lewat keserakahan.

Sebaliknya, bagi mereka yang paham hakikat dunia, harta justru menjadi alat penebar manfaat.

Kunci agar terhindar dari kegelisahan finansial bukanlah dengan memiskinkan diri, melainkan dengan memegang dunia cukup di tangan, tanpa pernah membiarkannya merembes dan menguasai relung hati.

Share:

Related Post

Leave a Comment